Rabu, 30 September 2015

Ruang Publik Negaraku


Habitat adalah tempat suatu makhluk hidup tinggal dan berkembang biak. Setiap makhluk hidup pasti mempunyai habitatnya masing-masing. Sayangnya tidak semua manusia mempunyai habitat yang layak untuk ditempati. Terutama di Negara tempat tinggalku, yaitu di Negara Indonesia.

Indonesia adalah Negara dengan sejuta tanya. Dimana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin melarat. Apapun bentuk pembangunan dan permasalahan, bahkan dengan hukum sekalipun di Negara Indonesia semua bisa dibeli.  Yang mempunyai uang yang akan menang !
Aku harap hal serupa tidak dilakukan oleh Kemen PUPR (Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat). Sepertinya tidak, tetapi ku yakin ada saja pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan hal tersebut, terutama dalam pembangunan ruang publik.

Berbicara tentang ruang publik, apa yang kami ketahui tentang rencana pembangunan? Dan apa para petinggi Negara mengecek ulang setiap kali memberi perintah untuk pembangunan? Apa hasil yang berdiri sesuai dengan perintah? Apa pengecekan itu dilakukan secara mendetail dan dilakukan oleh yang menyuruhnya langsung? Pasti tidakkan? Pasti pihak pertama menyuruh pihak kedua, pihak kedua menyuruh pihak ketiga, pihak ketiga menyuruh pihak keempat begitu seterusnya sampai pihak terakhir tidak menganggap penting pembangunan ruang publik tersebut.
Sesungguhnya ruang publik itu tidak kami nikmati secara cuma-cuma. Kami membayar pajak Negara yang terdiri dari pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai. Selain itu, kami juga membayar pajak daerah yang terdiri dari pajak kendaraan bermotor serta pajak memiliki usaha.
Ruang publik itu berdiri berdasarkan uang kami, seharusnya kami yang diistimewakan. Bukan mereka yang kerjanya tidur tetapi diberi gaji puluhan juta serta difasilitasi rumah dan kendaraan mewah.
Jika kita lihat ibu kota Jakarta dari depan, maka yang kita temui memanglah kota metropolitan. Kota dengan ratusan gedung-gedung tinggi menjulang. Kota dengan ratusan plaza mewah. Kota dengan ratusan apartemen, serta kota dengan banyak hotel berbintang.
Kota dengan jembatan-jembatan kokoh. Kota dengan sekolah-sekolah bagus. Kota dengan taman lingkungan dan taman kota yang terawat. Kota dengan Rumah sakit berfasilitas lengkap dan kota dengan taman rekreasi yang menarik.
Namun apa semua daerah di Indonesia memiliki hal-hal seperti itu? bahkan banyak tempat dibeberapa titik yang sangat mendambakan ruang publik yang layak. Tidak perlu istimewa ataupun mewah. Hanya sesuatu yang layak dilewati, ditempati dan dikunjungi. Contoh bentuk ruang publik yang masih banyak tidak pantas untuk dinikmati adalah jembatan.

                                          
Tidak hanya satu atau dua. Banyak kita lihat ataupun kita dengar di media masa bahwa ada beberapa jembatan khususnya di daerah-daerah terpencil yang masih sangat jauh dari kata layak. Melewati jembatan-jembatan tersebut seperti mengantarkan nyawa bagi mereka. Banyak anak-anak kecil yang sampai tidak berangkat kesekolah untuk menuntut ilmu dikarenakan jembatan-jembatan dikampung mereka rusak dan banyak anak kecil yang melawan derasnya arus air sungai dikarenakan tidak adanya fasilitas jembatan di kampung mereka. Mirisnya, kami warga Indonesia mengetahui hal tersebut dari iklan-iklan peduli sesama. Bagaimana bisa? Kemana uang pajak kami? sedangkan banyak saudara-saudara kami setanah air yang masih tidak mendapatkan haknya untuk menikmati ruang publik? Kemana para petinggi Negara? Mengapa mereka tidak membangun jembatan yang layak untuk yang membutuhkan?
                                   

Tidak hanya jembatan, jujur aku agak perihatin dengan fasilitas ruang publik yang kurang terawat. Seperti halte dan taman-taman kota. Seharusnya pemerintah memberi sanksi tegas kepada pihak-pihak yang merusak ruang publik. Tidak sedikit ruang publik yang baru sebulan beroperasi namun sudah rusak dan kotor. Banyak pula halte-halte yang sudah tidak layak pakai. Fasilitas tempat duduk yang tidak lengkap serta kotor. Sedangkan untuk taman kota, mungkin harus ada denda untuk masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Hal tersebut mungkin dapat memberikan efek jera, jadi semakin sedikit orang yang membuang sampah sembarangan. Hal lain yang paling kita sering kunjungi adalah taman kota, taman lingkungan dan taman rekreasi dengan toilet yang kotor serta berbau. Sangat tidak layak serta memprihatinkan.

Jalan yang kami lalui setiap hari pun banyak yang rusak. Terutama di jalan-jalan daerah dan dalam perkampungan. Dan lucunya, banyak sekali aku temui jalan-jalan utama yang masih sangat layak pakai namun dibongkar dan diperbaiki ulang, sedangkan jalan perkampungan yang rusak parah tidak dihiraukan sama sekali.
Bukankan daerah perkampungan juga lingkup dari Negara Indonesia? Bukankah yang tinggal di daerah perkampungan juga adalah warga dari Negara Indonesia? Bukankah warga yang tinggal di perkampungan juga membayar pajak dan berhak mendapatkan fasilitas ruang publik?
Untuk Hari Habitat Dunia tahun 2015 ini, aku harap pemerintah membuka mata. Indonesia bukan hanya di kota Jakarta. Indonesia adalah Negara dengan 34 provinsi. Seluruh lapisan masyarakat berhak mendapatkan ruang publik yang layak. Entah itu masyarakat yang tinggal di perkotaan ataupun masyarakat yang tinggal di perkampungan. Selain itu, seluruh lapisan masyarakat berkewajiban menjaga dan merawat ruang publik yang telah disediakan oleh pemerintah.
Memfasilitasi serta membangun ruang publik harus teliti, jangan sampai pemerintah melakukan hal yang mubazir, sedangkan pihak yang sangat membutuhkan tidak diperhitungkan. Dahulukan yang lebih membutuhkan, bukan dahulukan yang lebih kelihatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar