Hari ini merupakan hari yang istimewa untukku, Pengalaman pertamaku. Bagaimana tidak? hari ini kali pertamaku mengajar. Apa yang harus ku ucapkan pertama kali untuk murid perdanaku? Entahlah.. aku pun tak tahu. Tetapi dia, dia, untaian kata dari malaikat tak bersayap yang selalu memberiku motivasi. Ucapannya masih terus
terngiang di telingaku beberapa tahun yang lalu.
Aku warga dari Gampong Lampulo, Gampong (desa) terparah yang terkena Tsunami di Aceh pada Desember 2004 lalu. Dahulu usiaku masih 17 tahun. Jangan tanya perasaanku pada saat itu. Hatiku sangatlah hancur. Jiwaku sakit. Badanku lemas. Perih batin dan jiwaku sungguh tak dapat terungkapkan dengan kata-kata. Jiwaku terguncang. Bagaimana tidak? tak seorang family ku di temukan, bahkan sampai sekarang.
Sering sekali ku menangis dalam diam. Kerap rindu ingin bertemu datang menghantuiku. Bagaimanapun mereka penyemangat hidupku. Harta benda sudah tak berarti sedikitpun bagiku. Bahkan aku pun ingin ikut mati bersama seluruh kenangan ini.
Aku kerap diam dan menyendiri. Banyak orang-orang berbaik hati yang datang menghibur serta menawarkan diri untuk menjadi keluarga baruku. Namun semua luka ini masih tak bergegas pergi. Sampai ku bertemu kak Zahra.
Entah dari mana datangnya malaikat itu, aku pun tak tahu. Ia tak pernah memperkenalkan diri padaku. Ia tiba-tiba datang dan selalu membuntutiku. Tak pernah ia meninggalkanku sendiri, walau aku kerap diam dan membisu tetapi ia selalu bicara banyak kepadaku.
Ia banyak memceritakan hal-hal indah tentang kedermawanan Nabi Muhammad. Aku memang wanita berjilbab, sedikit banyaknya aku masih mempunyai iman maka bila rasullulah yang ia jadikan figur untuk menyadarkanku, aku pun akhirnya angkat bicara juga.
Banyak hal-hal penting yang kami lalui bersama. Kak Zahra kerap menyadarkanku bahwa tragedi dan bencana ini bukanlah akhir dari segalanya. "Jika Allah masih memberikanmu kesempatan untuk hidup berarti Allah masih ingin melihat usahamu untuk mengungkapkan cintamu kepada-Nya."
"Semua cobaan ini adalah cara-Nya mengujimu, beginilah cara-Nya menaikkan derajatmu."
Kata-katanya yang selalu mengatas-namakan Allah dan menguji keimananku itu membuat malaikat dalam diriku bangkit lagi. "kamu kehilangan keluargamu? Nabi Muhammad? kehilangan pamannya Abu Thalib yang sangat menyayanginya, kehilangan Siti Khadijah isteri sekaligus donatur kekayaannya, kehilangan harta benda, jiwa raga, di caci, di hina, di maki, di ludahi, di sakiti, apa beliau menyerah?"
"tetapi kak.. Nabi Muhammad di dampingi malaikat jilbril, salah sedikit di tegur langsung oleh Allah melalui wahyunya" jawabku membela diri
"Apa yang kamu katakan Nissa? Nabi Muhammad di dampingi wahyu Allah? terus Al-Qur'an bagaimana? itu wahyu Allah Nissa. Al-Qur'an itu pedoman kita. Allah memang tidak pernah menjanjikan hidup ini mudah tetapi Allah menjanjikan bahwa ia akan selalu ada di sisi kita."
Kata-katanya yang selalu menyejukan jiwa membuat percakapan kita selalu berujung senyum dibibirku. Hari-hariku di posko jadi terasa berwarna. Aku mulai memperhatikan orang-orang di sekelilingku lagi. Aku sekarang bisa tersenyum kembali. Aku bersama kak Zahra mencoba menghibur anak-anak kecil. Menghilangkan seluruh duka laranya. Hari-hari kami terasa cepat berlalu. Sampai suatu malam, sebelum tidur kak Zahra memegang tanganku dan berkata "Cita-citamu apa Nissa?" "Guru kak" jawabku. "kamu harus jadi guru Nissa. Kaka ingin kamu jadi guru. Kaka ingin kamu berhasil menggapai cita-citamu. Kamu harus jadi manusia yang berguna, sukses dan membanggakan. Untuk keluargamu, Allah dan Kaka. Berjanjilah untuk jangan pernah menyerah melewati cobaan hidup di dunia ini. Allah sayang kamu Nissa, Kaka sayang kamu. Kamu manusia hebat. Nyalakan selalu pelita nuranimu, jangan sampai padam sebagai penerang hidup. Jadilah terang bagi sekelilingmu. Bertahanlah dalam hujan, angin dan badai kehidupan dalam seberkas sinar pelita nurani."
Air mataku menetes, menyadarkanku bahwa aku harus masuk kelas dan mengajar murid-murid perdanaku. dengan ucapan
bismillahirrohmanirrohim aku mulai melangkah. Semua murid tersenyum memandangku. Lalu aku pun mengeluarkan seluruh kemampuanku dan
alhamdulillah semua berjalan lancar.
Aku keluar kelas dengan senyuman bangga dibibirku. Aku meneteskan air mata. Aku berharap kak Zahra datang mengusap air mata dan memelukku tetapi, malam itu adalah malam terakhir kami.Murung suasana pun ikut berbelasungkawa, ku lihat nirwana bertudung duka. Kak Zahra telah pergi menghadap sang ilahi. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku telah mati bahkan sampai berkali-kali. Setiap nafas ini bagaikan gigitan beribu ular ditubuhku. Setiap untaian kata ini bagaikan jeritan keras terdengar di telingaku. Hatiku hancur, tetapi Allah belum cukup mengujiku. Ia masih ingin melihat seberapa besar keimananku. maka, hanya bersabarlah yang terbaik bagiku saat itu. Kata-kata terakhir dari kak Zahra yang membuatku kuat selama ini.
Kak Zahra ternyata anak seorang koruptor. Ayahnya di penjara dan ibunya masuk rumah sakit jiwa. Kak Zahra memilih jadi seorang motivator untuk siapapun yang jiwanya tengah terguncang. Kak Zahra dibuktikan tidak bersalah atas apa yang dilakukan orang tuanya karena ia selama ini tinggal berjauhan dengan orang tuanya. Ia kuliah serta menimba ilmu di Bandung, sedangkan orang tuanya di Jakarta.
Malam itu adalah malam terakhir kami. Saat aku tertidur ternyata kak Zahra mendapat telpon dari orang rumah sakit bahwa ibu kak Zahra mencoba bunuh diri. Kak Zahra tidak membangunkan ku. Ia pergi secepatnya. Berhari-hari aku tak mendengar berita tentangnya. Sampai ku selidiki asal usulnya dan ku cari alamat koruptor itu. Ku dengar kak Zahra kecelakaan saat dalam perjalanan. Ibunya pun tidak terselamatkan.
Kejadian ini sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Sekarang aku tinggal bersama ayah kak Zahra. Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi semua manusia punya kesempatan pula jika ingin bertaubat. Ayah kak Zahra sudah ku anggap ayahku sendiri, begitupun sebaliknya. Kami hidup sederhana, namun bahagia.
Kak Zahra adalah figur yang sangat berharga untukku. Semua yang ada di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Yang aku sesali hanya satu, mengapa aku harus terlambat mengetahui asal usul keluarga kak Zahra. Dan yang aku kagumi dari Malaikat tak bersayapku itu, dia tidak pernah kelihatan bersedih. Untuk kami ia selalu menebarkan senyuman walau di hatinya hancur berantakan.
Lewat kak Zahra aku yang telah mati kini hidup kembali. Lewat kak Zahra aku kini mempunyai keluarga lagi. Lewat kak Zahra hidupku kini lebih berarti.
Terima kasih Yaa Allah..
Terima kasih kak Zahra Malaikat tak bersayapku.